Rabu, 15 Januari 2014





CINTAKU NUN JAUH DI PULAU TERPENCIL
Oleh : Ismail lamablawa

Kapalku  menderu mengerungi ombak diantar buih-buih laut Selat madura. Angin laut menampar-nampar mukaku yang pasi karena semalaman kurang tidur disuntuki obrolan menarik sambil menikmati keindahan pantai Kenjeran, jembatan laying suramadu yg membentang panjang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura,keindahan Patung Jales Veva Jayamahe yang terletak di ujung timur pelabuan KOARMATIM (Komando Armada Timur) Gedung gedung yg menjulang tingi ketika memandang dari laut, sungguh luar biasa indah sekali.
          Obrolan kali ini  tentang negeri khatulistiwa Negara Maritime  yang maha karya dengan sumberdaya alam lautannya. Kami berlima menikmati ikan bakar,ubi rebus,jagung  titi (cemilan khas Lembata),Kebetulan baru-baru dapat kiriman dri ibu dan pisang  bakar pada dinginnya Pagi yang menusuk ketika surfei lapangan pada bulan November 2013  lalu di pantai Timur Surabaya . Satu orang kawanku telah mendengkur dialunkan ombak karena kelelahan dihajar waktu dan tugas. Ah, negeri ini terus membangunkan khayalku menuju masa lalu yang gilang gemilang.

Aku jadi teringat Ayah dan ibuku, saudara saudarku, keluargaku yang kutinggal di rumah, asyik masyuk anak anak kecil bermain perahu-perahuan yang terbuat dari kertas,sabut kelapa,batng pohon yang di buat mirip seperti perahu seakan akan  itu  perahu mainan belaka. Dan juga   teringat masa laluku yang kelam sama sepert apa yang mereka lakukan di sana.
Negeri bahari yang minim sarana transportasi. Betapa tidak, angkutan barang di dalam negeri masih mengandalkan kapal-kapal asing yang secara de fakto devisa digondol "bule" ke luar negeri,Kapal Tua yang sudah rapuk,Kapal bekas yg di modifikasi.Kapal bekas Negara lain yg di beli dan di modifikasi lagi.  Tapi biarlah,suatu hari nanti  aku hanya ingin menikmati perjalanan pulang  mengunakan Kapal bekas  menuju pulau kecil Yang terletak di ujung timur pulau flores (LOMBLEN ISLAND)
Jangan rewel dan mabuk kawan, kita  akan menyaksikan negeri jamrud khatulistiwa yang berkibar sejak ratusan tahun lalu, sejak Raden Wijaya dengan taktik liciknya mampu menandaskan pasukan Mongol di tanah Jawa Dwipa.Satu dua pulau  kita lewati di tengah kuah belantara samudera.

 Kapalku terus melaju ke tengah kuah belantara samudera. Kapal terus melaju ke tangah gelora. , sepertinya aku tengah berada melaju ke tengah samudera antah berantah, jauh di ujung dunia, Tapi bukan…! Ini selat Madura, selat yg merupakan jalur transportasi kapal dari pelabuhan tanjung perak Surabaya menuju pelabuahn Lewoleba, Lautnya begitu kotor yang dulunya biru berubah warna menjadi coklat ke hitaman bisa di katakana (kopi susu), banyak limbah minyak bekas yg di buang oleh kapal,limbah pabrik yg di buang ke laut, berbagi jenis sampah rumah tangga yang berserakan di bawa arus, gimana nasip biota laut yang hidup di perairan itu, sunguh aku merasa  prihatin kawan- kawanku……!

Ayah, ibu, saudar saudarakuu ! Ini bukan Atlantik yang telah menelan meremas bulat-bulat Titanic, ini bukan Tanjung naga (suba Wutun)  yang telah meremas kandas KM Pantai Harapan di bao pukang,dan ini bukan Laut sawu yang tinginya 3 meter,di sini bukan Teluk labala yang  pantainy berbatu dan ombak lautnya begitu besar, Labala Pantai selatan Raya  bibir pantai Laut Sawu. Di sini adalah selat madur  belaka.
Ayah,ibu,saudarsaudaraku, Aku jadi ingat Jan Pieterszoon Coen, kepala gerombolan yang mengatasnamakan Kompeni, yang telah mengeruk kekayaan nusantara selama ratusan tahun untuk membangun Nederlan atau Holand atau Amsterdam. Pala, cengkeh, timah emas,kayu cendana, dijarah tak henti-henti. duh, angin laut terus menyambari mukaku, membangkitkan rasa benciku pada yang berbau Eropa sediakala. lihat, lumba-lumba bersukaria timbul tenggelam berlari mengejar di antara buih ombak yang dibelah kapal. Itulah pulauku yang aku tinggal hamper 3 tahun. LOMBLEN TERCINTA yang di apiti Laut Sawu dan Laut Flores , dan itulah desaku LABALA LEWORAJA  desa nelayan yang berada di selatan dari perut laut sawu  bila dipotret dari udara.    

Di ujung dermaga pulau Lembata itu,ketika berangkat daftar  kulih, aku  dengan penuh malu-malu  menyatakan cita-citanku kepada ayah,ibu, saudara-saudaraku dan keluargaku aku menjadi seorang Pelaut Nahkoda kapal. Terinspirasi di sebuah lagu ‘’Nenek Moyanku seorang pelaut Gemar mengarung Luas samudra’’ entah kenapa jawaban ibu yang mebuat aku ragu menjadi seorang Nahkoda,,Ibu mengatakan seorang pelaut banyak uang akan tetapi lupa akan saudara dan keluarganya, dan pastinya lama kembali dan tidak kumpul sama keluarga.
          Aku masi ingat pesan ibu yang terakir seandainya saya jadi seorang pelaut,,masa tuaku siapa yang merawat..? Kakak,abangmu udah menika dan sudah bekerja,kamulah laki-laki terakir dari 5 bersaudara alias anak bungsu kamu gk boleh jauh jauh dari ibu,,pokonya kamu selau ada di dekat ibu..
          Ketika mendenggar pesan ibu rasanya kecewa dan patah semangt,seakan gak ingin Kuliah, akan tetapi saudara saudara  dan keluargaku rmembangkitkan,Memberi dorongan,masukan,saran dan pendapat, semangat dan akirnya aku memili kulia dengan jurusan ‘’Teknik  perikanan’’ FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KELAUTAN.Salah satu Fakultas, jurusan dan prguruan tingi yang bebaur Kelautan.

 Pergureuan Tingi ini  Milik Angkatan Laut,, Kampus UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA  (Kampus Laut Biru)  di bawah naungan (YAYASAN NALA TNI  AL) Awalnya aku  Terinspirasi mendengar perkataan dari Kakek tua  tentang kandasnya harapan anak-anak pulau kecil, tak ada pilihan selain meneruskann tapak jejak orang tuanya yang jadi nelayan.
Nelayan………………………………………………………………....?
 Aku anak nelayan yang hidup serba kekurangan,kehidupanku bergantung pada laut. Ayahku anak nelayan, kakek dan moyangku Darah nelayan mengalir di tubuhku Daging dan urat-urat nelayan Membaluti tulangku , aku anak nelayan Dari kulitku yang hitam berkilat, hitam pekat seperti  gosong  Sampai ke urat dan sumsum. Orang  menilaiku dari  suara  Pasti tahu aku adalah anak nelayan, dari suaraku Bila berbicara tak pernah halus (biarpun berdua) Selau dengan nada tinggi melengking Membuat urat-urat nadi  tegang Membujur sepanjang leherku.
Aku anak nelayan Dilahirkan di sebuah desa nelayan Labala  leworaja, Dimana penduduknya menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan hanya  menangkap ikan semata. Aku anak nelayan Ketika aku di lahirkan ibu dan waktu masai kanak-kank  seakan akan aku selalu Berhubung erat dengan laut biru Laut selatan yang jarang tenteram Dengan pantai berbuat berwarna hitam Yang berkilau-kilau ditimpa matahari.
 Pantai yang menjadi lebar dan sempit Menuruti pasang surut atau pasang naik , Gelombang laut yg begitu tingi sekan tergulung dan Memecah di bibir Pantai . pantai  yang Terbentang  antara dua tanjung yang akrab tanjung lusitobo wutun di sebelah timur Dan tanjung leworaja disebelah barat Pantai yang kadang berpasir seluruhnya (dengan ombak kecil-kecil gemersik) Kadang pula kehilangan pasirnya Tinggal batu-batu bulat hitam  Atau hitam berlumut Dengan ombaknya yang bergulung-gulung Dengan suara dan hempasan yang dahsyat.



 Hai..Saudara saudaraku…Apakah Negara kita seperti ini..? Dikatakan Negara Kepulauan, Negara maritime,Negara bahari surganya Indonesia , Akan Tetapi banyak saudara-saudar kita,temen temen kita yang hidup di daerah pesisir pantai dan Pulau terpencil yang berpendidikan SD,dan SMA harus memutuskan sekoalh dan menjadi nelayan.Hidup serba keterbatasan, Kekuranga air bersih dan akses-akses lain yang tidak dimiliki oleh orang-orang darat aku menyebut manusia yang mendiami (Pulau jawa sebagai manusia darat).

Tiba saatnya aku kembali dan menginjakan kaki di dermaga Lewoleba
( kab.Lembata) yang sudah aku tinggal selama 3 tahun, Secuil harapanku memang selalu tertanam pada hatiku dan hati siapapun, termasuk mereka yang hidupnya serba keterbatasan di daerah pesisir  pulau kecil. Bagi masyarakat yang mendiami pulau kecil  dan terpencil di negeri ini akses dan keterbatasan itu sempurna lantaran sering kebijakan pemerintah yang tidak berpihak. Ingat Sipadah-Ligitan.? Seandainya pemerintah sejak awal mau sedikit berbagi hati dengan pulau terpencil  ini,tentu Mahkamah Internasional tidak akan membiarkan tetangga kita untuk memilikinya. padahal soal pulau kecil, apalagi di pulaunya jauh dari pusat produksi barang.


Aku menulis ini untuk  mengingatkan Pemerintah  soal harapan bagi anak-anak di pulau kecil. Anak Nelayan di pualauan Lembata,(Lomblen)  gugusan pulau di bibir Laut Flores,dan  anak nelayan Desa Labala Tercinta, saudara sudaraku! Ingatkah sistem jual beli barang bertransaksi perdagangan masi kuno sistim berter, menukarkan barang bukanya dengan uang akan tetapi barang di tukarkan dengan barang, contohnya hasil laut seperti ikan di tukarkan dengan bers,jagung ubi dll, itulah tradisi kebudayaan jaman dahulu sampai sekarang.
Ah, bagaimana dengan nasib saudara-saudaraku di pulau kecil dan terluar nun jauh disana? Apakah nasibnya sepadan dengan saya. Aku membaca Miangas yang selalu bertransaksi perdangan menggunakan Peso/Dolar/Ringgit. Produk barang-barang yang dipakainya pun "made in" tetangga. Apa arti "nasionalisme" tanpa kesejahteraan dan perhatian dari pemerintah..? Ia hanya omong kosong nyeruput kopi pahit.

Saudara-saudaraku, masih banyak  orang  lain di pulau kecil dan terpencil atau bahkan di pulau terpencil dan terluar, yang menginginkan perhatian pemerintah. Aku yakin mereka juga ingin seperti saudaranya di pulau dan kota besar yang dapat menikmati sarana dan kemajuan teknologi zaman kiwari. Namun apa daya, akses, kebijakan, bahkan tatatan politik belum mampu mencapai keinginan apa yang mereka maui. Tapi yakinlah, saudaraku, tak ada orang tua yang akan menelantarkan anaknya. kalau pun ada, itu arus yang berlawanan dengan sunatullah.     


Ada belasan ribu pulau kecil dan desa terpencil yang kita miliki yang hanya dipajang dalam binghkai "etalase" NKRI. Ada ratusan pulau kecil berpenghuni yang nasibnya perlu sentuhan khusus pemerintah. Ada Sembilan puluh dua pulau kecil terluar, pun membutuhkan sentuhan kebijakan yang berpihak baik dari sisi Pendidikan, ekonomi, sosial, serta  pertahanan dan keamanan serta politik. Ada dua belas pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Jangan, jangan biarkan mereka "membelot"Kolot’’  dengan alasan ditelantarkan. Jangan, jangan ada Sipadan-Ligitan kedua dibumi pertiwi nusantara ini.
Ah, saudra-saudarku, cintaku benar-benar tambat nun jauh di pulau terpencil dan teluar.



Menurut Pendapat Anda, apakah dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, seharusnya pembangunan berbasis kemaritiman….?
Apa seharusnya pembangunan berbasis perkantoran….?
Top of Form
Bottom of Form



Tidak ada komentar:

Posting Komentar