CINTAKU NUN JAUH DI PULAU TERPENCIL
Oleh : Ismail lamablawa
Oleh : Ismail lamablawa
Kapalku menderu mengerungi ombak diantar buih-buih
laut Selat madura. Angin laut menampar-nampar mukaku yang pasi karena semalaman
kurang tidur disuntuki obrolan menarik sambil menikmati keindahan pantai
Kenjeran, jembatan laying suramadu yg membentang panjang menghubungkan Pulau
Jawa dan Madura,keindahan Patung Jales Veva Jayamahe yang terletak di ujung
timur pelabuan KOARMATIM (Komando Armada Timur) Gedung gedung yg menjulang
tingi ketika memandang dari laut, sungguh luar biasa indah sekali.
Obrolan kali
ini tentang negeri khatulistiwa Negara
Maritime yang maha karya dengan
sumberdaya alam lautannya. Kami berlima menikmati ikan bakar,ubi rebus,jagung titi (cemilan khas Lembata),Kebetulan
baru-baru dapat kiriman dri ibu dan pisang bakar pada dinginnya Pagi yang menusuk ketika
surfei lapangan pada bulan November 2013 lalu di pantai Timur Surabaya . Satu orang
kawanku telah mendengkur dialunkan ombak karena kelelahan dihajar waktu dan
tugas. Ah, negeri ini terus membangunkan khayalku menuju masa lalu yang gilang
gemilang.
Aku jadi teringat Ayah dan ibuku, saudara saudarku,
keluargaku yang kutinggal di rumah, asyik masyuk anak anak kecil bermain
perahu-perahuan yang terbuat dari kertas,sabut kelapa,batng pohon yang di buat
mirip seperti perahu seakan akan itu perahu mainan belaka. Dan juga teringat masa laluku yang kelam sama sepert
apa yang mereka lakukan di sana.
Negeri bahari yang minim sarana transportasi. Betapa tidak,
angkutan barang di dalam negeri masih mengandalkan kapal-kapal asing yang
secara de fakto devisa digondol "bule" ke luar negeri,Kapal Tua yang sudah
rapuk,Kapal bekas yg di modifikasi.Kapal bekas Negara lain yg di beli dan di
modifikasi lagi. Tapi biarlah,suatu hari
nanti aku hanya ingin menikmati
perjalanan pulang mengunakan Kapal bekas
menuju pulau kecil Yang terletak di
ujung timur pulau flores (LOMBLEN ISLAND)
Jangan rewel dan mabuk kawan, kita akan menyaksikan negeri jamrud khatulistiwa
yang berkibar sejak ratusan tahun lalu, sejak Raden Wijaya dengan taktik
liciknya mampu menandaskan pasukan Mongol di tanah Jawa Dwipa.Satu dua
pulau kita lewati di tengah kuah
belantara samudera.
Kapalku terus melaju
ke tengah kuah belantara samudera. Kapal terus melaju ke tangah gelora. ,
sepertinya aku tengah berada melaju ke tengah samudera antah berantah, jauh di
ujung dunia, Tapi bukan…! Ini selat Madura, selat yg merupakan jalur
transportasi kapal dari pelabuhan tanjung perak Surabaya menuju pelabuahn
Lewoleba, Lautnya begitu kotor yang dulunya biru berubah warna menjadi coklat
ke hitaman bisa di katakana (kopi susu), banyak limbah minyak bekas yg di buang
oleh kapal,limbah pabrik yg di buang ke laut, berbagi jenis sampah rumah tangga
yang berserakan di bawa arus, gimana nasip biota laut yang hidup di perairan
itu, sunguh aku merasa prihatin kawan-
kawanku……!
Ayah, ibu, saudar saudarakuu ! Ini bukan Atlantik yang telah
menelan meremas bulat-bulat Titanic, ini bukan Tanjung naga (suba Wutun) yang telah meremas kandas KM Pantai Harapan di
bao pukang,dan ini bukan Laut sawu yang tinginya 3 meter,di sini bukan Teluk
labala yang pantainy berbatu dan ombak lautnya
begitu besar, Labala Pantai selatan Raya
bibir pantai Laut Sawu. Di sini adalah selat madur belaka.
Ayah,ibu,saudarsaudaraku, Aku jadi ingat Jan Pieterszoon
Coen, kepala gerombolan yang mengatasnamakan Kompeni, yang telah mengeruk
kekayaan nusantara selama ratusan tahun untuk membangun Nederlan atau Holand
atau Amsterdam. Pala, cengkeh, timah emas,kayu cendana, dijarah tak
henti-henti. duh, angin laut terus menyambari mukaku, membangkitkan rasa
benciku pada yang berbau Eropa sediakala. lihat, lumba-lumba bersukaria timbul
tenggelam berlari mengejar di antara buih ombak yang dibelah kapal. Itulah
pulauku yang aku tinggal hamper 3 tahun. LOMBLEN TERCINTA yang di apiti Laut Sawu
dan Laut Flores , dan itulah desaku LABALA LEWORAJA desa nelayan yang berada di selatan dari perut
laut sawu bila dipotret dari udara.
Di ujung dermaga pulau Lembata itu,ketika berangkat daftar kulih, aku
dengan penuh malu-malu menyatakan
cita-citanku kepada ayah,ibu, saudara-saudaraku dan keluargaku aku menjadi
seorang Pelaut Nahkoda kapal. Terinspirasi di sebuah lagu ‘’Nenek Moyanku seorang
pelaut Gemar mengarung Luas samudra’’ entah kenapa jawaban ibu yang mebuat aku
ragu menjadi seorang Nahkoda,,Ibu mengatakan seorang pelaut banyak uang akan
tetapi lupa akan saudara dan keluarganya, dan pastinya lama kembali dan tidak
kumpul sama keluarga.
Aku masi
ingat pesan ibu yang terakir seandainya saya jadi seorang pelaut,,masa tuaku
siapa yang merawat..? Kakak,abangmu udah menika dan sudah bekerja,kamulah
laki-laki terakir dari 5 bersaudara alias anak bungsu kamu gk boleh jauh jauh
dari ibu,,pokonya kamu selau ada di dekat ibu..
Ketika
mendenggar pesan ibu rasanya kecewa dan patah semangt,seakan gak ingin Kuliah,
akan tetapi saudara saudara dan
keluargaku rmembangkitkan,Memberi dorongan,masukan,saran dan pendapat, semangat
dan akirnya aku memili kulia dengan jurusan ‘’Teknik perikanan’’ FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU
KELAUTAN.Salah satu Fakultas, jurusan dan prguruan tingi yang bebaur Kelautan.
Pergureuan Tingi ini Milik Angkatan Laut,, Kampus UNIVERSITAS HANG
TUAH SURABAYA (Kampus Laut Biru) di bawah naungan (YAYASAN NALA TNI AL) Awalnya aku Terinspirasi mendengar perkataan dari Kakek
tua tentang kandasnya harapan anak-anak
pulau kecil, tak ada pilihan selain meneruskann tapak jejak orang tuanya yang
jadi nelayan.
Nelayan………………………………………………………………....?
Aku anak nelayan yang hidup serba
kekurangan,kehidupanku bergantung pada laut. Ayahku anak nelayan, kakek dan
moyangku Darah nelayan mengalir di tubuhku Daging dan urat-urat nelayan Membaluti
tulangku , aku anak nelayan Dari kulitku yang hitam berkilat, hitam pekat
seperti gosong Sampai ke urat dan sumsum. Orang menilaiku dari
suara Pasti tahu aku adalah anak
nelayan, dari suaraku Bila berbicara tak pernah halus (biarpun berdua) Selau
dengan nada tinggi melengking Membuat urat-urat nadi tegang Membujur sepanjang leherku.
Aku anak nelayan
Dilahirkan di sebuah desa nelayan Labala
leworaja, Dimana penduduknya menggantungkan hidupnya dari hasil laut dan
hanya menangkap ikan semata. Aku anak nelayan
Ketika aku di lahirkan ibu dan waktu masai kanak-kank seakan akan aku selalu Berhubung erat dengan
laut biru Laut selatan yang jarang tenteram Dengan pantai berbuat berwarna
hitam Yang berkilau-kilau ditimpa matahari.
Pantai yang menjadi lebar dan sempit Menuruti
pasang surut atau pasang naik , Gelombang laut yg begitu tingi sekan tergulung
dan Memecah di bibir Pantai . pantai
yang Terbentang antara dua
tanjung yang akrab tanjung lusitobo wutun di sebelah timur Dan tanjung leworaja
disebelah barat Pantai yang kadang berpasir seluruhnya (dengan ombak
kecil-kecil gemersik) Kadang pula kehilangan pasirnya Tinggal batu-batu bulat
hitam Atau hitam berlumut Dengan
ombaknya yang bergulung-gulung Dengan suara dan hempasan yang dahsyat.
Hai..Saudara
saudaraku…Apakah Negara kita seperti ini..? Dikatakan Negara Kepulauan, Negara
maritime,Negara bahari surganya Indonesia , Akan Tetapi banyak saudara-saudar
kita,temen temen kita yang hidup di daerah pesisir pantai dan Pulau terpencil
yang berpendidikan SD,dan SMA harus memutuskan sekoalh dan menjadi
nelayan.Hidup serba keterbatasan, Kekuranga air bersih dan akses-akses lain
yang tidak dimiliki oleh orang-orang darat aku menyebut manusia yang mendiami (Pulau
jawa sebagai manusia darat).
Tiba saatnya aku kembali dan menginjakan kaki di dermaga
Lewoleba
( kab.Lembata) yang sudah aku tinggal selama 3 tahun, Secuil
harapanku memang selalu tertanam pada hatiku dan hati siapapun, termasuk mereka
yang hidupnya serba keterbatasan di daerah pesisir pulau kecil. Bagi masyarakat yang mendiami
pulau kecil dan terpencil di negeri ini
akses dan keterbatasan itu sempurna lantaran sering kebijakan pemerintah yang
tidak berpihak. Ingat Sipadah-Ligitan.? Seandainya pemerintah sejak awal mau sedikit
berbagi hati dengan pulau terpencil ini,tentu
Mahkamah Internasional tidak akan membiarkan tetangga kita untuk memilikinya.
padahal soal pulau kecil, apalagi di pulaunya jauh dari pusat produksi barang.
Aku menulis ini untuk mengingatkan Pemerintah soal harapan bagi anak-anak di pulau kecil. Anak
Nelayan di pualauan Lembata,(Lomblen) gugusan
pulau di bibir Laut Flores,dan anak
nelayan Desa Labala Tercinta, saudara sudaraku! Ingatkah sistem jual beli
barang bertransaksi perdagangan masi kuno sistim berter, menukarkan barang
bukanya dengan uang akan tetapi barang di tukarkan dengan barang, contohnya
hasil laut seperti ikan di tukarkan dengan bers,jagung ubi dll, itulah tradisi
kebudayaan jaman dahulu sampai sekarang.
Ah, bagaimana dengan nasib saudara-saudaraku di pulau kecil
dan terluar nun jauh disana? Apakah nasibnya sepadan dengan saya. Aku membaca
Miangas yang selalu bertransaksi perdangan menggunakan Peso/Dolar/Ringgit.
Produk barang-barang yang dipakainya pun "made in" tetangga. Apa arti
"nasionalisme" tanpa kesejahteraan dan perhatian dari pemerintah..?
Ia hanya omong kosong nyeruput kopi pahit.
Saudara-saudaraku, masih banyak orang lain di pulau kecil dan terpencil atau bahkan
di pulau terpencil dan terluar, yang menginginkan perhatian pemerintah. Aku
yakin mereka juga ingin seperti saudaranya di pulau dan kota besar yang dapat
menikmati sarana dan kemajuan teknologi zaman kiwari. Namun apa daya, akses,
kebijakan, bahkan tatatan politik belum mampu mencapai keinginan apa yang mereka
maui. Tapi yakinlah, saudaraku, tak ada orang tua yang akan menelantarkan
anaknya. kalau pun ada, itu arus yang berlawanan dengan sunatullah.
Ada belasan ribu pulau kecil dan desa terpencil yang kita
miliki yang hanya dipajang dalam binghkai "etalase" NKRI. Ada ratusan
pulau kecil berpenghuni yang nasibnya perlu sentuhan khusus pemerintah. Ada
Sembilan puluh dua pulau kecil terluar, pun membutuhkan sentuhan kebijakan yang
berpihak baik dari sisi Pendidikan, ekonomi, sosial, serta pertahanan dan keamanan serta politik. Ada dua
belas pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Jangan,
jangan biarkan mereka "membelot"Kolot’’ dengan alasan ditelantarkan. Jangan, jangan
ada Sipadan-Ligitan kedua dibumi pertiwi nusantara ini.
Ah, saudra-saudarku, cintaku benar-benar tambat nun jauh di
pulau terpencil dan teluar.
Menurut
Pendapat Anda, apakah dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari
banyak pulau, seharusnya pembangunan berbasis kemaritiman….?
Apa
seharusnya pembangunan berbasis perkantoran….?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar